Suasana Padang Arafah

Persis maghrib kami tiba di Arafah dan turun dari bis masuk ke area perkemahan kloter kami. Padang Arafah sudah bukan padang pasir luas tak berpohon lagi. Arafah masa kini sudah banyak ditumbuhi pohon dan begitu indah terutama saat kami sampai di lokasi.

Suasana Masjidil Haram

Selama menunaikan ibadah haji, ada banyak waktu yang dihabiskan jamaah haji Indonesia di Masjidil Haram di kota Mekkah. Sekitar 2/3 waktu dari total 40 hari perjalanan haji dihabiskan di kota Mekkah, dan waktu terbanyak umumnya dihabiskan di Masjidil Haram.

Masjid Nabawi Nan Eksotis

Salah satu waktu paling eksotis berada di mesjid ini adalah saat lepas sholat subuh. Saat matahari menjelang muncul di cakrawala, ketika ribuan jamaah bersantai di sekitar mesjid menikmati teh susu panas dan sepotong roti kebab.

Pondokan dan Transportasi

Bagi jamaah haji Indonesia, ibadah tahun 2008 ini ditandai dengan jauhnya lokasi pondokan di kota Mekkah dari Masjidil Haram. Pada saat mengetahui informasi tersebut, saya sudah langsung bersiap untuk realistis menghadapi keadaan yang akan timbul di Mekkah.

Hikmah Ziarah ke Makam Baqi

Disamping Mesjid Nabawi terdapat makam Baqi, suatu kompleks kuburan yang cukup luas dan berada di tengah kota Madinah. Saya dan teman-teman sempat berziarah dan berkeliling dalam areal makam. Pekuburan ini sangat berbeda dari kuburan muslimin di negeri kita.

Baca Laporan Khusus PTN Favorit di SNMPTN dari AtigaMedia.com. Berguna untuk para calon mahasiswa sebelum menentukan pilihan jurusan di PTN, juga untuk para pengelola PTS dalam membaca "selera pasar" jurusan di negeri ini.

Saturday, January 31, 2009

Haji: The Power of Niat

Salah satu hal yang menggugah hati dalam keberangkatan saya menunaikan ibadah haji ini adalah kenyataan bahwa banyak sekali jamaah yang berangkat bukanlah tergolong orang yang "mampu" secara finansial. Ada banyak jamaah yang memiliki pekerjaan yang bila dilihat dari kacamata logika kita, tidaklah akan mampu membiayai ibadahnya. Mohon maaf, bukan bermaksud melecehkan siapapun, namun kita coba cari hikmahnya. Ada yang tukang sayur, ada petani kecil, ada yang bahkan sudah tidak memiliki pekerjaan lagi beberapa tahun terakhir.

Lalu bagaimana mereka bisa menunaikan kewajiban rukun Islam kelima ini? Saya pun melakukan "survey" sangat sederhana berdasarkan obrolan singkat dengan para jamaah dari seluruh dunia yang sempat saya temui dan saya tengarai tidak memiliki "kemampuan" tadi.

Kesimpulan saya, tidak ada logika manusia yang bisa menerangkannya secara memuaskan serta logis. Semua semata-mata adalah "keajaiban" dan merupakan deretan bukti nyata dari kemurahan Allah SWT terhadap umat yang mencintai-Nya, kepada umat yang rindu untuk memenuhi panggilan-Nya.


Namun ada 1 faktor yang secara nyata terus muncul diantara berbagai "keajaiban" tadi. Setiap orang tidak mampu tadi ternyata memiliki niat dan tekad yang kuat untuk menunaikan ibadah haji jauh hari sebelumnya. Niat inilah tampaknya yang menjadi titik mulai (starting point) dari segalanya. Dari sebagian besar cerita mereka, saat niat di-lafadz-kan, saat niat dilantunkan, mulai saat itulah rezeki seakan datang mengalir... dari pintu-pintu dan dari arah yang mereka tidak duga sebelumnya. Subhanallah...

Bandingkan dengan rekan-rekan kita yang secara kasat mata mampu (bahkan sangat mampu) secara keuangan, ketika ditanya kapan akan menunaikan haji? Jawaban standar yang biasa muncul adalah "wah, belum siap nih...".

Jawaban demikian adalah jawaban yang sangat melemahkan, baik dari sisi spirit internal diri orang yang bersangkutan, maupun melemahkan dari sisi "kebulatan tekad dan niat" orang tersebut dihadapan Allah SWT.

Rasanya, tidak ada orang yang akan siap 100% menghadapi penunaian ibadah haji. Ibadah ini adalah ibadah kompleks, ibadah yang multi dimensi. Akan sangat sulit pula bagi manusia untuk mempersiapkan secara sempurna dirinya dalam semua aspek. Ada aspek fisik, aspek pengetahuan agama, aspek psikologis, aspek penyiapan keluarga yang ditinggal, aspek pekerjaan yang ditinggal, dll.

Dari pengalaman pribadi saya, proses persiapan ini secara otomatis biasanya akan terpicu sendiri saat kita mulai berniat, saat kita mendapat kepastian tanggal keberangkatan. Timbul kekuatiran akan "siapkah" kita untuk merangkat. Sudah sempurnakah wudhu kita, sholat kita? Apakah sikap sehari-hari kita sudah cukup Islami? Sudah mengertikan kita akan segala proses ritual haji yang akan kita laksanakan nanti? Dan seterusnya...

Yakinlah juga bahwa proses ibadah haji itu sendiri adalah merupakan proses "menyempurnakan" diri kita sendiri menjadi insan yang benar-benar Islami. Jadi berhaji adalah proses "persiapan" itu sendiri.

Bagaimana dengan anda?
Sudah siapkan anda untuk berniat haji?

Saran saya, jangan tunggu usia anda menjadi terlalu tua. Berniatlah sesegera mungkin, tekadkanlah dalam hati anda bahwa anda akan pergi dengan izin Allah SWT. Jangan lupa terus berdoa karena Allah SWT sungguh maha pemurah dan maha mengabulkan permohonan umat-Nya.

Semoga bermanfaat...

3 comments:

  1. Aslkm wr.wb.

    Mungkin pernah sisipan pas di Masjidil Haram atau di Nabawi ya pak.:)

    Wasslkm.wr.wb
    Dina-jamaah haji 2008-Jawa Timur
    kerlip-kerlip.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Asslkm..wr..wb...
    Salam kenal ...saya Anton dari Semarang ...saya berangkat haji th 2008 juga..
    Betul pendapat anda ...bahkan ada dalam satu kloter dg saya...yang mantan pengemudi bis Damri...yang bahkan berani menggunakan uang pesangonnya dari DAMRI untuk berangkat haji...subhanallah...
    Wasslkm...wr..wb

    ReplyDelete
  3. tull banget.... yang penting mulai memancangkan niat dan menabung dari saat ini....selanjutnya pertolongan Allah SWT terasa sangat dekaaaatttt...

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...