Postingan

Menampilkan postingan dengan label Konsumsi

Mencium Hajar Aswat

Gambar
Bagi sebagian jamaah haji Indonesia, mencium Hajar Aswat (atau Hajar Aswad) adalah suatu hal "wajib" yang biasanya menjadi salah satu cerita yang dijadikan "oleh-oleh" saat pulang ke tanah air. Namun pada saat musim haji yang sangat ramai, hal yang satu ini tergolong sangat sulit dilakukan dan beresiko cukup tinggi. Ini karena padatnya keadaan di sekitar Ka'bah. Ribuan orang ingin melakukan hal yang sama pada saat bersamaan dan tidak ada sistem atau aturan yang mengatur agar proses penciuman berjalan lancar, teratur, aman, dan "adil".

Bawa Barang Apa ke Tanah Suci?

Gambar
Berangkat dalam rombongan program haji reguler yang dikelola Depag RI sangatlah berbeda dibanding melakukan perjalanan internasional biasa. Kita masuk dalam suatu sistem yang dikontrol secara ketat dan kita tidak bisa terlalu bebas melakukan berbagai hal sekehendak kita. Salah satu hal penting yang perlu disiapkan matang saat berangkat adalah apa-apa saja yang perlu dibawa agar kita bisa survive di tanah suci. Tiga jenis tas standard yang disediakan Garuda Indonesia dan Saudi Airlines biasanya kosong saat jamaah berangkat. Jadi, bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya agar fase awal saat tiba di tujuan kelak, kita bisa nyaman karena bawaan kita sesuai kebutuhan disana.

Makan Sehat dan Hemat di Mekkah

Gambar
Di kota Mekkah, jamaah haji Indonesia harus mengurusi makan sendiri. Sedangkan di Jeddah, Madinah, Arafah dan Mina, konsumsi diurusi oleh panitia haji. Bagi kami yang datang di gelombang 1, ada masa pemanasan selama kurang lebih 8-9 hari di Madinah sebelum "terjun bebas" cari makan sendiri di Mekkah. Bagi jamaah gelombang 2, mereka langsung ke Mekkah. Tersedia dana 1500 riyal uang living cost yang diberikan kepada setiap jamaah Indonesia untuk keperluan makan ini. Ada beberapa cerita sedih dari jamaah gelombang 2 yang mengalami kesulitan dalam beradaptasi langsung dengan situasi Mekkah. Apalagi bagi jamaah yang tinggal di pondokan yang jauh serta dilarang memasak oleh pemilik pondokan. Sulit membayangkan para jamaah yang lugu dari kampung harus "berkelahi" mencari makan sendiri di "belantara" metropolitan Mekkah yang sangat padat seperti pada musim haji begini.

Postingan populer dari blog ini

Mesjid Nabawi Nan Eksotis (1)

Beratap Langit di Muzdalifah

Sholat Dhuha di Tanah Suci